Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Juni 2013

Mutasi

beberapa hari lagi, aku selaku pegawai di divisi SDM kantor pusat, akan segera di mutasi. Mutasi bukanlah proses berkembangnya DNA atau RNA ke arah yang lebih keren, mutasi bukanlah hasil dari gigitan laba-laba lalu tiba-tiba bisa ngeluarin jaring lewat pergelangan. bukan.. mutasi yang aku maksud adalah pindah tempat.

well, oke. setidaknya waktu aku dapet amplop berisi mutasi, aku emang ngebayangin disuruh masuk ruangan berisikan laba-laba hasil eksperimen.
ya sudah. mari kita kesampingkan mutasi DNA dan beralih ke mutasi pegawai.

aku yang tadinya berada di kantor pusat, akan dipersilakan belajar di cabang koodinator. banyak banget yang komentar langsung. dan aku yakin dengan kepedulian masyarakat Indonesia pada umumnya, yang komentar dibelakang lebih banyak. ga sedikit yang ngomong kepindahanku karena kerjaku ga becus. ga sedikit pula yang ngomong kepindahanku karena bikin cerwek-cewek ga bisa konsen saking gantengnya diriku. aku sudah berusaha mengarahkan opini publik ke yang nomor dua. tapi sepertinya masyarakat pada umumnya lebih suka fakta bahwa aku tidak becus kerjanya (ya iyalah)

banyak komentar masuk, seperti :
"kasian ya..." dan sampe sekarang aku bingung kenapa mereka kesian?

kenapa sih ya orang dipindah keluar kantor pusat dibilang kasian? analisisku sih bilang, kalo kerjaan di cabang koordinator lebih berat dan lebih ke masalah operasional. tapi beneran itukah mereka bilang kasian? mari kita cek. kalo beneran. maka orang kantor pusat lebih memilih kerja ringan dan ga ribet kan ya?
aku pernah baca kata-kata bagus :

"kalo kamu tidak kejam pada hidup kamu, maka hidup kamulah yang akan kejam pada dirimu"
seperti layaknya anak manja. orang tua selalu menuruti apa yang di inginkan si anak. di bantu. tapi tidak mendidik. dan si anak tidak akan dewasa. seperti itulah maksud dari quote barusan. setidaknya dalam pandanganku.

dan kalau pun mereka tetap bilang kasian.. siapa yang tau?
pernah ada kisah tentang keluarga yang kehilangan kudanya, tetangga pun berkomentar "kasian sekali"
tapi setelah waktu berselang beberapa hari, kuda itu kembali dengan membawa kuda lain sebagai pasangannya, tetangga pun berkomentar "wah beruntung sekali"
tak berapa lama, si pemilik menunggang kuda baru tersebut, karena kuda baru itu liar. si pemilik terlempar dan terjatuh hingga menyebabkan kakinya parah.. masih bilang "kasian sekali"? atau "wah beruntung sekali"?
kisah selanjutnya adalah, esok harinya terjadi perang dan semua laki-laki diharuskan ikut berperang. karena si pemilik sedang patah kaki. dia tidak ikut berperang.

dari kisah di atas bisa dibilang kita ga bisa berpikir satu sudut. kadang banyak hal yang baik untuk kita, tapi kita malah berpikir itu hal yang buruk.

aku di mutasi kawan.. cabang koordinator. bukanlah sesuatu yang buruk.. bukan pula suatu yang perlu dikasihani. aku siap menerima segala resiko. karena aku yakin Gusti Mboten Nate Sare

 

Minggu, 01 Januari 2012

Mereka bilang aku CINA



-----------------------------------------------



A : Kenapa namanya ayu ting ting?
B : karena dia masih perawan?
A : engga. Soalnya dia dari jawa barat. Nyanyinya “dimana… dimana… dimana?”
     Kalo dari cina namanya ayu ling ling dan pasti nanyinya “damana… damana… damana?”
----------------------------------------------

 ini cina!

ini bukan!

Merasa geli juga sih nulis judulnya. Tapi ini merupakan jawaban dari tantangan WURI. Bagi pembaca yang ga tau siapa itu wuri, bersujud dan segeralah mengucap syukur. Karena jika mengenal dia akan memberikan efek penyesalan yang berkepanjangan, mata berkunang-kunang, dan obesitas yang peningkatannya sangat signifikan ditiap harinya. Okelah, kita singkirkan wuri dari pembicaraan ini. Toh selain wuri bukan cina, kalo nama wuri disebut beberapa kali akan memberikan dampak kesenangan pada dia krn namanya disebutkan beberapa kali dalam posting ini.

Pembaca yang berasal dari UNIKA Soegijapranata tentu tau bahwa mayoritas yang berkuliah di Unika adalah Chinese. Tentu aku tau karakteristik beberapa dari mereka, memang bukan semua, cuman kebanyakan. Kalo survey bilang sih 7 dari 10. Aneh juga, semenjak aku sekolah dari SD sampai Kuliah, baru kuliah aku dikatain bersuku cina. Cina dari mananya coba? Beberapa karakteristik cina udah pernah aku pelajarin. Ga ada tu karakteristik yang ada di aku.
  1. Aku ga begitu putih
  2. Aku ga secerdas mereka dalam hal managemen uang bahkan aku ga cerdas dalam hal apapun *lho kok jadi ngejek diri sendiri gini?
  3. Aku ga pake sandal crox ke kampus
  4. Aku ga pake baju kebesaran
  5. Aku ga… ga… ga… kuat… ga… ga… ga… kuat… *eh, kok malah nyanyi gini?
  6. Aku masih bisa ngomong Di… bukan Da pada kata “DIMANA”
  7. Bauku tidak seperti baju baru (kayaknya ga berlu diterangin ya, terlihat kalo ga mudeng maka pembaca kurang cerdas. Hehe)
  8. Aku ga pake kalung emas apalagi di perlihatkan dan dipadu padankan dengan baju yang kancing bajunya di buka 3-4 bagian atas (bukan 1 kancing seperti orang kebanyakan. Dan entah kenapa ya, hal itu membuat beberapa orang PD. Padahal ada 3 hal yang mereka ga tau. 1. Orang itu terlihat norak 2. Orang itu terlihat homo 3. Orang itu combo dari keduanya)
Dan masih banyak lagi yang ga banget dari aku. Intinya bagian manakah dari diriku yang patut dikatakan cina? Kalaupun aku mirip cina, berarti yang cina kan orang tuaku, bukan aku. Eh, hem… sebentar. Ada yang aneh dengan pernyataan barusan. Ah sudahlah.

Satu hal yang pasti, ada satu kemiripan yang aku yakin bikin mereka bilang aku cina. Yaitu mata. Tapi mereka ga tau, tahun 2012 yang lagi hits adalah mata sipit. Ini relevan dan didukung oleh survey pembelian elektronik. Di tahun 2012 orang akan senang dengan sesuatu yang tipis. Hape tipis. Televisi tipis dan juga mata yang tipis. Sipit adalah hits di tahun 2012. Hidup sipit!

Ngomong-ngomong soal cina. Banyak hal yang ga bisa aku pahami soal sterotip cina yang pelit dan perhitungan. Padahal banyak banget temenku yang cina dan baiknya naujubilah. Ada sih yang pelit sampe-sampe pinjem buku aja ga boleh, takut lecek katanya. Tapi sedikit. Aku bingung, padahal buku lecek itu sebagian dari iman. Contohlah alkitab. Kalo alkitab ga lecek, berarti yang punya ga pernah baca. Trus apa gunanya punya? Ah sudahlah, kembali ke topic awal. Kita singkirkan topic hidayat dan topic saya bundar.

Sterotip cina yang pelit jelas didasari dari pemikiran orang yang meminta. Mari kita bernalar lagi. Di semarang yang paling dekat dengan orang cina adalah orang jawa. Kebanyakan orang jawa (7 dari 10 lagi. Jika kamu bukan tipe ini berarti kamu adalah 3 dari 10) pinggiran yang diberi sesuatu cenderung meminta lagi. Pemikirannya adalah jika awalnya diberi maka jika meminta lagi akan diberi. Nah, aku cenderung yakin kalo sterotip pelit bermula dari ini. Pribadi orang jawa yang merasa di enakan dengan diberi dan meminta bertubrukan dengan orang cina yang segalanya akan diperhitungkan. Orang cina memiliki sifat perhitungan adalah dari hidup mereka yang memilih berdagang. Dosenku pernah bilang, jaman dulu orang cina ga bisa jadi PNS, Polisi ataupun perangkat pemerintah. Hasilnya cara untuk kaya adalah dengan berdagang.

Tapi kenapa sih kita selalu mempermasalahkan cina, jawa, batak ataupun sunda? Tuhan menciptakan manusia itu berbeda-beda. Tapi Tuhan kasih 1 yang sama. “sesuatu” yang buat kita bisa mengerti satu sama lain. Untuk bisa saling toleransi dan menghormati satu sama lain. Entah apa pun suka anda. Yakinlah bahwa Tuhan beri kita Cinta untuk saling memahami.